Tampilkan postingan dengan label Makanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makanan. Tampilkan semua postingan

Senin, 27 September 2010

Kacang Ayam

Ada yang pernah tau Kacang Ayam? Camilan ini adalah oleh-oleh khas dari Makassar. Saya nggak pernah menjumpai di tempat lain. Heran juga kenapa ya nggak dijual di tempat lain selain Makassar, padahal dengan rasanya yang gurih dan enak, harusnya banyak peminat, yang akan berdampak pada keuntungan signifikan. *halah, kayak aku aja yang punya yah*

Eniwei, Kacang Ayam jangan dibayangkan kacang yang berasa ayam. Ternyata ini hanya nama brand. Maksudnya mungkin kacang cap ayam gitu kali yaa.. Camilan ini mirip kacang shanghai. Ini istilah saya sejak kecil untuk menyebut kacang yang dibalut dengan tepung warna putih. Kacang Ayam ini ternyata juga dibuat beraneka rasa dan bentuk. Selain yang berbentuk shanghai, ada juga yang mirip kacang disco dari Bali. Itu tuh, semacam kacang telor tapi beraneka rasa. Ada yang barbekyu, sampe balado. Lucu, unik, dan gurih rasanya.

Harganya bervariasi, mulai dari Rp. 7.500,00 untuk yang ukuran sekali makan, nggak tau berapa gram isinya, sampe yang satu kilogram, seharga Rp. 20.500,00. Meski sepertinya mahal, tapi cukup murah menurut saya untuk oleh-oleh teman sekantor yang berjumlah 12 orang. Lumayan ngirit kan.. *irit apa pelit yah?* Hehehe.. Terlepas dari itu, camilan ini emang khas banget merknya, meski rasanya nggak jauh beda sama kacang shanghai biasa, dan patut dicoba deh kalo berkunjung ke Makassar.

Minggu, 26 September 2010

Barongko yang Manis Legit

Ketika sarapan di hotel pagi tadi, saya berkesempatan mencoba kudapan penutup khas Sulaswesi Selatan, Barongko. Mulanya saya tidak tahu bahwa namanya Barongko. Saya pikir itu ketan hitam, yang dibungkus dengan daun pisang. Iseng pengen mencoba, saya memutuskan mengambil satu.

Ternyata Barongko adalah makanan berbahan dasar pisang. Rasanya manis, dengan sedikit asam seperti yogurt, dan lembut sekali. Cocok banget untuk pencuci mulut setelah sarapan. Hehehe.. Menurut teman saya, Barongko adalah kudapan favorit. Dan sepertinya memang iya. Meski Barongko yang saya ambil tadi adalah yang terakhir, masih banyak tamu yang bertanya "Barongkonya masih adakah?". Wah saya jadi merasa beruntung, berkesempatan memakan Barongko terakhir tadi.

Bagi yang penasaran seperti apa bentuk dan rasa Barongko, berikut saya comotkan resep Barongko hasil Googlingan. Kalo mau nyoba, nggak dijamin berhasil yah! Hehehe..
Bahan :
200 gr tepung ketan
25 gr tepung kanji
100 ml air mendidih
1 sdt garam
1,5 sdt vanili
850 ml santan hangat, dari 1,5 butir kelapa
10 biji pisang raja matang, bisa diganti pisang tanduk atau kepok
350 ml santan kental dari 1,5 butir kelapa, beri 0,5 sdt garam
daun pisang untuk membungkus
Cara Membuat :
1. Campur tepung beras dan tepung kanji, lalu tuangi air mendidih sambil diaduk-aduk.
2. Masukkan gula, garam, vanili, tuangi santan hangat, aduk sampai rata.
3. Masak diatas api hingga setengah matang, angkat, sisihkan.
4. Kupas pisang, belah dua memanjang, lalu iris setebal 0,5 cm. Masukkan kedalam adonan tepung beras, aduk hingga merata.
5. Ambil selembar daun pisang, taruh 2-3 sdm adonan, lalu tambahkan 2-3 sdm santan kental, bungkus, sematkan dengan lidi.
6. Kukus selama 30-40 menit hingga matang.

Thats it! Resep diatas belum dicoba di dapur saya, mengingat saya nggak pernah masak. Kalo anda mencoba dan jadi, sukur, kalo nggak jadi beli aja deh Barongkonya. Hehehe..

Selamat membayangkan Barongko!

Kamis, 23 September 2010

Hari Gado-Gado

Pagi tadi ketika sarapan, saya memberanikan diri mencoba menu gado-gado. Saya menyebutnya memberanikan diri karena saya yakin gado-gado yang disajikan oleh hotel tempat saya menginap di Makassar ini pasti jauh berbeda dari gado-gado yang biasa saya makan di Surabaya. Tapi karena pilihan makanan lain sudah mulai membosankan, saya pikir sekali-sekali makan gado-gado di Makassar is not a big problem.

Di hotel ini corner gado-gado terletak di sudut tersendiri, yang mengharuskan tamu memesan dulu, kemudian pelayan akan menyiapkan, dan mengantarkan ke meja. Jadi bukan termasuk menu prasmanan. Akhirnya setelah menunggu beberapa menit, diantarlah gado-gado itu ke hadapan saya. Setelah icip-icip saya menyimpulkan bahwa saya sedang makan pecel, bukan gado-gado. Hahaha.. Karena rasa bumbunya, dan komposisi sayurnya pecel banget. Dengan warna bumbu agak gelap, dipadu sayur kangkung rebus, kubis rebus, taoge, dll (saya lupa apa aja isinya), gado-gado ini disajikan dengan tempe tahu bacem, plus telor rebus, dan ayam goreng, lengkap dengan nasi. Menurut saya ini agak aneh, karena lazimnya gado-gado dimakan dengan lontong. Nasinya keras pula. Hiyaaa.. Alhasil saya hanya menyantap sayurnya saja.

Hari terus berputar dan tibalah saat makan malam. Bingung karena di Makassar saya sulit menemukan sayur, akhirnya pilihan jatuh di tempat makan dekat hotel yang menyatu dengan gerai KFC dan Supermarket Gelael. Di salah satu stan, ternyata ada yang menjual gado-gado, rujak, dan pecel. Wah, ya sudah, pilihan jatuh pada gado-gado (lagi). Tapi kali ini lebih yummy daripada yang saya makan tadi pagi. Akhirnya setelah beberapa hari di Makassar, saya bisa makan sayur dengan yummy. Cuma saya heran satu hal. Mengapa harga makanan dengan daging (apapun itu) harganya lebih murah daripada makanan dengan lauk sayuran. Benar-benar mengherankan bagi saya. *still thinking*